
Dakwah dalam Dua Sisi Media Baru
Perkembangan teknologi yang semakin canggih telah membawa dampak dan perubahan di berbagai bidang, salah satunya bidang dakwah. Perkembangan teknologi ini memudahkan para da’i menyampaikan pesan dakwahnya melalui berbagai media. Banyak sekali media yang bisa dimanfaatkan untuk berdakwah, seperti media sosial berupa Facebook, Instagram, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.
Sekarang ini, sudah banyak da’i yang berdakwah dengan mengikuti perkembangan zaman, sehingga membuat para da’i bisa lebih dekat dengan masyarakat karena pesan yang disampaikan mudah diterima. Contohnya KH. Abdullah Gymnastiar yang berdakwah dengan menggunakan berbagai media sosial. Dengan itu masyarakat dapat mengakses dakwah dengan lebih mudah.
Namun, di sisi lain, dakwah di era digital ini tidak terlepas dari berbagai tantangan dan kendala. Karena mudahnya diakses, masyarakat pun mudah untuk melakukan penolakan dakwah, serta melontarkan cacian dan cibiran. Contohnya seperti kasus Ustadz Abdul Somad yang dicap sebagai ustadz radikal. Dikutip dari Tempo.co, Ustadz Abdul Somad menyampaikan tentang banyaknya tuduhan di internet bahwa beliau adalah ustadz radikal. “Banyak orang menuduh saya, di internet, katanya saya jihad keras, ustadz radikal,” kata Ustadz Abdul Somad saat mengisi kuliah Duha di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Ahad, 4 Februari 2018.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa walaupun di satu sisi berdakwah di media baru menjadi lebih mudah, namun di sisi lain orang juga lebih mudah menyebarluaskan kabar bohong, hoax, serta fitnah. Banyak masyarakat yang enggan menyaring dan memilah informasi yang mereka terima, sehingga masyarakat yang masih minim pengetahuan agama dan moral akan menelan berita hoax secara mentah-mentah. Miskinnya literasi media dapat menimbulkan perdebatan berkepanjangan di samping juga cibiran.
Para da’i juga harus dihadapkan dengan gaya hidup dan budaya asing yang bertolak belakang dengan agama, namun melekat dan memengaruhi masyarakat, terutama kaum muda. Mungkin, hal ini dikarenakan konten dakwah di media sosial masih kurang dominan dibandingkan dengan jenis konten lainnya.
Banyak sekali orang yang tidak malu mempertontonkan dosanya di media sosial, bahkan seperti bangga telah berbuat dosa. Misalnya saja pacaran, membuka aurat, melontarkan kata-kata yang tidak pantas, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat ada yang menegur ataupun memberi nasihat, sebagian dari mereka ada yang tidak terima dan mengatakan “munafik, sok suci.”
Karena itulah, seorang da’i harus mampu menggunakan metode yang tepat saat berdakwah di media sosial. Dikutip dari website Quora, ada beberapa alasan mengapa orang tidak terima ketika dinasihati, di antaranya karena nasihat yang diberikan terkesan menghakimi target, nasihat yang diberikan klise dan seperti menggurui, serta jejak digital seorang dai’i yang dianggap kurang baik dapat memengaruhi orang yang diberi nasihat.
Jadi, selain berdampak positif, berdakwah di media sosial juga tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dilalui oleh pendakwah. Berdakwah di media sosial memang efektif dan berpotensi lebih menarik. Di sisi lain, tantangan tadi membuat para da’i harus lebih bijak dan tepat menentukan strategi dakwah di era digital ini.
Para da’i harus bisa mengikuti perkembangan zaman dan memahami kaum milenial pada saat ini, sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dan beradaptasi dengan mad’u. Contohnya, ustadz Hanan Attaki yang dijuluki pendakwah masa kini. Gaya khasnya membuat pesan dakwah yang disampaikan mudah diterima oleh mad’u. Ia menggunakan kata-kata yang lembut, hati-hati dalam berucap, dan serta penuturan yang mudah dipahami, agar dapat membekas di hati para mad’u. Strategi dakwah yang tepat diperlukan karena di era digital ini apabila seseorang tidak menyukai dakwah seorang da’i, maka dengan mudah dia mampu menolak maupun mencibir da’i tersebut. >> [sumber foto: pixabay.com]