
Islamofobia Juga Terjadi di Indonesia?
Istilah Islamophobia sudah tidak asing lagi di telinga kita sebagai umat Islam itu sendiri. Islamophobia adalah ketidaksukaan atau ketakutan yang tidak masuk akal dan prasangka terhadap Muslim atau Islam. Islamophobia muncul pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1991. Oxford English Dictionary memasukkan kata ini sebagai kata baru dalam Bahasa Inggris pada tahun 1997. Seperti yang dikutip dari web nusakini.com oleh Muhammad Afthon Lubbi, Islamophobia adalah ketakutan Barat terhadap muslim dan Islam. Ia adalah kebencian dan permusuhan yang ditunjukkan dengan prasangka negatif dan diskriminasi serta menjauhkan orang-orang Islam dari kehidupan sosial dan politik.
Islamophobia menguat pasca tragedi tahun 2001. Pesawat jet berpenumpang dibajak kelompok teroris lalu dihantamkan ke menara kembar World Trade Center (WTC) di Washington DC. Korbannya sekitar 3.000 warga masyarakat sipil. Komunitas Islam dipandang sebagai penyebab segala permasalahan dan menjadi sasaran tuduhan tersebut. Pasca serangan tersebut, Amerika sampai mengeluarkan daftar pendatang yang dicurigai potensial sebagai terorisme, yang berlaku mulai tanggal 1 Oktober 2002. Pemerintah Australia juga melakukan tindakan serupa dengan mengeluarkan serangkaian aturan antiterorisme dan melakukan beberapa penggeledahan terhadap beberapa rumah-rumah muslim pasca bom Bali. Sejak saat itu, muncul ketakutan dan prasangka terhadap kaum Muslim dan agama Islam. Itu bukan hanya berlangsung di negara-negara Barat, bahkan di negara kita yang mayoritas penduduknya muslim muncul Islamophobia. Islamophobia juga menjalar ke negara-negara tetangga.
Kasus Islamophobia paling baru terjadi pada tanggal 16 Mei 2022 ketika rombongan keluarga ustaz kondang Indonesia, yang berniat berliburan, bukan berdakwah, di negeri Singapura dihalangi dan dilarang. Hal itu disayangkan terjadi, padahal yang bersangkutan telah mempunyai surat-surat lengkap sebagai pelancong atau turis, bahkan surat izin dari Immigration and Checkpoints Authority (ICA) Singapura. Alasan yang dilontarkan Kementerian Dalam Negeri Singapura, ustaz kondang itu tergolong penceramah ekstrimis.
Secara pribadi, saya pun pernah mengalami perlakuan yang menyiratkan sikap Islamophobia. Saya merupakan salah satu Muslimah yang memilih untuk menggunakan cadar bertepatan dengan maraknya larangan cadar dan celana cingkrang di Indonesia. Jadi ketika saya memilih untuk mengunakan cadar, sering sekali perlakuan tak enak datang kepada saya, baik secara nyata maupun maya. Teror dunia maya sering terjadi pada akun media sosial saya yang mengatakan teroris, sok Arab, dan sok suci. Bahkan pernah pada suatu hari saya duduk di ruang tunggu rumah sakit karena sedang megantar ibu berobat, tiba-tiba ada seorang anak kecil dilarang oleh ibunya untuk duduk sebelah saya dan ibu itu mengatakan saya seram. Tak hanya sampai di situ, setelah kejadian bom bunuh diri pada tanggal 31 maret 2021 di Makassar, akun media sosial pesantren saya mengupload foto wisuda, lalu ada yang berkomentar “yang pakai cadar tukang bom bunuh diri“.
Terorisme telah menjadi fitnah bagi umat Islam. Perasaan tidak senang terhadap Islam dan cap atau pemberian label teroris sangat lekat dengan Islam. Islamophobia adalah bagian dari dampak teror yang dilakukan dengan membajak nama Islam. Lalu, bagaimana kita menghadapi Islamophobia tersebut? Apakah dengan cara kekerasan? Apakah dengan koar-koar dan marah-marah menunjukkan Islam bukan teroris? Sejatinya melawan Islamofobia harus dilakukan dengan membalikkan persepsi-salah mereka dalam melihat Islam. Umat Islam harus menunjukkan bahwa agama Islam datang dengan membawa perdamaian, keadilan, dan penegakan aturan yang diharapkan mampu membawa manusia menjadi lebih baik. Islam harus ditampilkan dengan akhlak mulia.
Dikutip dari web jalan damai oleh rufi taurisia, cara menghadapi islamophobia yang sudah kronis bisa kita tiru dari akhlak mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yakni dengan cara berdakwah dan mengenalkan Islam kepada pembenci Islam. Rasulullah SAW bukan saja menghadapi Islamophobia, tetapi sudah menerima ancaman fisik. Begitu banyak cacian yang diterima oleh Rasulullah SAW kala itu. Rasulullah SAW tidak pernah membalasnya dengan cacian. Rasulullah SAW justru mengambil sikap baik dengan cara memperkenalkan Islam kepada mereka yang membenci Islam dan pemeluknya.
Banyak cerita tentang mereka yang membenci Rasulullah kemudian justru memilih masuk Islam. Apa kata kuncinya? Akhlak Rasulullah SAW dalam menampilkan ajaran Islam sangat anggun. Mereka terpukau dengan sikap dan tindakan Nabi yang memanusiakan manusia. Akhlak Nabi mampu menembus relung hati mereka yang membenci Islam. Umat Islam tidak perlu memberikan banyak dalil tentang Islam, cukup menampilkan akhlak mulia sebagai bagian dari perangai muslim. >> [foto: dian b]