The Power of Adzan

The Power of Adzan

FEATURE oleh YONAS VIKA VILOVA, Mahasiswi Prodi KPI STAI Daarut Tauhiid Bandung

Kala itu, langit sore di Gegerkalong, Bandung,sedang tidak bersahabat. Hujan turun cukup deras membuat sedikit genangan air di jalanan. Orang-orang yang berlalu lalang sibuk menyingkapkan pakaian mereka agar tidak basah. Tak sedikit pula orang-orang yang menggunakan bantuan payung untuk melindungi tubuhnya dari  guyuran hujan. Tetapi suasana atau keadaan yang seperti itu tidak membuat semangat beribadah warga sekitar Mesjid DT menurun. Mereka tetap berbondong-bondong untuk pergi ke mesjid dan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di sana.

            Senin, 07 November 22, sepulangnya dari kuliah saya berencana untuk pergi ke supermarket atau swalayan yang ada tepat di sebrang Masjid DT. Sesampainya saya di sana tiba-tiba adzan Maghrib berkumandang, langkah saya terhenti saat melihat supermarket yang ingin saya tuju sedang bersiap-siap untuk ditutup. Saya lupa bahwa supermarket tersebut adalah milik yayasan Daarut Tauhiid yang tentunya akan tutup setiap adzan dikumandangkan. Kemudian saya mengamati suasana sekitar, saya melihat hal yang sama, semua penjaga toko di sekitar supermarket tersebut juga sedang bersiap-siap menutup tokonya.

\ Selain mesjid dan lembaga pendidikan, yayasan Daarut Tauhiid mengadakan program koperasi DT. Koperasi ini menyediakan tempat untuk berdagang dan barang yang diperjualbelikan. Keuntungan yang diraup dari mengikuti program koperasi ini bukan hanya sekedar keuntungan finansial, tetapi para pedagang di sana juga dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana tidak, koperasi ini berada tepat di sebrang Masjid DT. Ketika waktu shalat tiba atau kajian dilaksanakan penjaga toko bisa segera bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan shalat atau mengikuti kajian. Terutama waktu-waktu shalat fardhu dan shalat Jum’at, penjaga koperasi DT diwajibkan untuk menutup sementara tokonya dan melaksanakan shalat terlebih dahulu.

            Sungguh pemandangan yang sangat mengesankan dan mengetuk hati untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Tak mau kalah, saya pun menunda niat saya untuk pergi ke supermarket dan ikut bergegas menuju masjid dan melaksanakan shalat berjama’ah di sana.

\ Selesai melaksanakan shalat Maghrib saya melihat melalui jendela Masjid yang mengarah ke jalan, apakah supermarket DT atau yang biasa disebut SMM sudah buka atau masih ditutup. Rupanya karyawan di sana sedang membuka gerbang berwarna hijau yang menutupi pintu SMM tersebut. Saya pun segera mengajak teman saya untuk pergi ke sana, melanjutkan niat awal saya untuk membeli susu dan sereal di supermarket.

Setelah menemukan apa yang saya cari kemudian membayarnya ke kasir, saya keluar dan memilih melanjutkan perjalanan saya menuju toko-toko yang ada tepat di samping SMM. Dengan rasa penasaran saya bertanya kepada salah satu penjual pakaian muslimah yang ada di sana, “Bu, punten mau nanya, ini setiap adzan kan tokonya harus ditutup, apa ga takut kehilangan pembeli atau rugi ?” Ibu tersebut menatapku sambil tersenyum kemudian menjawab, “Kan rezeki itu datangnya dari Allah teh kalo kita ga memenuhi atau menyepelekan panggilan Allah gimana mau diturunin rezekinya? Intinya mah sing yakin aja teh sama Allah, da tutup toko pas adzan sama shalat mah cuma sebentar aja, kita mah nyari berkahnya aja teh, mungkin dengan kaya gini Allah jadi ridho sama jualan kita dan kalo kaya gini kan jadinya ibu gak nunda-nunda shalat, bisi lupa juga kalo ditunda-tunda nanti malah jadinya ga shalat.”

Dari jawaban ibu penjaga toko yang berhasil saya wawancarai ini mengajarkan saya tentang pentingnya kekuatan ketauhiidan kita kepada Allah. Lagi pula, apapun kegiatan dan kesibukkan yang kita lakukan, kita harus tetap mengutamakan Allah. Berhenti kegiatan dan segera bergegas melaksanakan shalat ketika adzan berkumandang adalah salah satu upaya kita mengutamakan Allah.

Adzan merupakan seruan untuk seluruh umat islam akan masuknya waktu shalat wajib dan seruan untuk shalat berjamaah dengan lafadz-lafadz tertentu. Asal mula adanya adzan ini dijelaskan dalam berbagai hadist, salah satunya hadist yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Umar yang artinya:

Ketika kaum muslim datang ke Madinah, mereka berkumpul. Mereka memperkirakan waktu shalat, tetapi tidak ada seorangpun yang menyerukan Shalat. Oleh karena itu, pada suatu hari, mereka membicarakannya. Sebagian diantara mereka berkata, “gunakanlah lonceng seperti orang-orang Nasrani.” Sebagian lain berkata: “gunakanlah terompet seperti terompet orang Yahudi.” Lalu umar berkata: “mengapa kalian tidak menyerukan seseorang untuk melakukan shalat?” kemudian Rasulullah SAW bersabda, “hai Bilal, berdiri dan serukanlah panggilan Shalat.” (H. R. AL-Bukhori, Muslim, at Tirmidzi, dan An Nasa’i).

            Adzan adalah seruan paling dahsyat. The power of seruan sembahyang atau adzan ini dikumandangkan di berbagai titik seluruh dunia sebanyak 5x dalam sehari. Suara adzan yang bersaut-sautan di berbagai belahan dunia ini sama-sama mengagumi kebesaran Allah dan mengajak seluruh umat Islam untuk berhenti berkegiatan dan bergegas melaksanakan shalat. Adzan juga merupakan pengingat kita untuk bersimpuh menghadap Allah. Mendengarkan adzan juga sama seperti memohon ampunan untuk dosa muadzain yang mengumandangkan, itu artinya kita yang mendengarkan pun akan mendapat do’a dari malaikat agar dosa-dosa kita diampuni. Maasya Allah begitu besar The Power of Seruan Sembahyang atau adzan ini.

            Salah satu kewajiban kita atau adab kita sebagai seorang muslim ketika adan dikumandangkan adalah berhenti berbicara dan menghentikan aktivas. Sebagaimana yang diucapkan Rasulullah kepada Malik Ibnu Huwairits dan teman-temanya,“Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan untuk kalian.” (H.R. Muslim). Hadist tersebut pula yang mendasari mengapa koperasi DT atau pedagang-pedagang di sekitar Masjid DT menutup tokonya ketika adzan berkumandang dan bersegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat.

            Tingkat ketauhidan yang ada di hati mereka, kecintaan mereka kepada Allah, serta kepahaman mereka terhadap keutamaan dan adab-adab muslim ketika adzan yang membuat mereka melakukan itu semua. Dan benar yang dikatakan salah satu penjaga ruko yang telah saya wawancarai bahwa sejatinya Allah lah yang telah menurunkan segala sesuatu untuk kita, maka kita harus sangat mengagungkan, seharusnya kan mengagumi dan mengutamakann Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.  >> [Foto: Yonas Vika Vilova]